Renungan Dhuha : Mudikers

4 June 2019
Renungan

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillahirahmanirahim.
Alhamdulillahirabbilalamin.

Saudaraku yang baik hati,
Ramadhan sudah memasuki hari ke-28. Beberapa kota besar seperti Jakarta terlihat mulai sepi. Peserta itikaf di masjid masjid juga mulai berkurang. Sebagian besar sudah mudik ke kampung halaman.

Ada mudikers terikat dengan semangat birrul walidain karena masih ada orang tua di kampung halaman. Yang lain lagi walaupun orangtua sudah meninggal semua, tetap mudik. Hatinya tak bisa lepas dengan kampung halaman.
Termasuk saya

Pulang ke kampung halaman saat lebaran sudah menjadi tradisi. THR langsung ludes untuk baju baru dan tiket mudik. Pulang kampung butuh modal bro…
———-

Saudaraku yang budiman,
Sebenarnya kampung halaman kita yang sesungguhnya dimana ? Apakah tempat kelahiran kita ? Ataukah kota dimana orang tua kita tinggal ? Atau dimana ?

Suatu saat Rasulullah memegang pundak Umar bin Khatthab dan bersabda : “Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti seorang pengembara.”

Artinya kota manapun didunia ini bukanlah kampung halaman kita. Kita hanyalah orang asing yang sedang mengembara. Lalu, kemanakah kita akan pulang (kampung) ?
———-

Saudaraku yang rendah hati,
Kampung tempat kita pulang sesungguhnya adalah akhirat. Tempat mengikat hati.
Dunia hanyalah persinggahan untuk mengumpulkan bekal mudik. Mudikers sejati tak membawa dunia. Jadi tak gelisah jika dunia tak kunjung ditangan.
Pun juga tak sombong saat dunia menghampiri. Toh gak bisa dibawa mudik.

Semoga kita tak menjadi mudikers yang menyesali salah bekal, seperti yang disebut dalam ayat 99-100 Surat al-Mu’minuun : “Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.”

Astaghfirullah wa atubu ilaih…
———-

Saudaraku yang bahagia,
Quote hari  ini adalah :

” Bekal. Sesuatu yang berguna di tempat tujuan, bukan di tempat asal. Waspadalah ”
———-

Selamat berbuka puasa. Menunaikan hak raga dengan makan minum, serta hak jiwa dengan doa yang tak tertolak.

Dzahaba Dzoma’u Wabtallatil ‘Uruuqu Wa Tsabatal Ajru Insya Allah
(Telah hilang rasa dahaga, dan telah basah kerongkongan, serta telah ditetapkan pahala insya Allah.)

Saya, al fakir Karyanto Wibowo Soewignjo, dari KWS Life Academy.

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *