Kereta Api Hejaz, Jalur Kereta Legendaris

11 May 2019
Sirah

Sebuah jalur kereta api diresmikan pada tahun 1908. Jalur yang kemudian dikenal dengan jalur kereta api Hejaz ini membentang dari Damaskus, Syiria hingga Madinah di Arab Saudi. Rute ini dibangun pada masa kekaisaran Ottoman. Kini jalur legendaris ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan.

 

Menilik dari sejarahnya, Kereta api Hejaz atau Hejaz Railway ini dibangun dengan bantuan Jerman, tahun 1849 dan diresmikan pada tahun 1908. Jalur ini menghubungkan Damaskus ke Madinah, dengan jarak lebih dari 1.300 km.

Berbeda dengan zaman Ottoman (Turki Utsmani) yang hanya satu wilayah, saat ini jalur kereta api itu melalui lima negara berbeda, yaitu Turki, Suriah, Yordania, Israel, dan Arab Saudi. Pada masa kejayaannya mampu menangkut 300.000 penumpang. Sayangnya Hejaz Railway hanya berlangsung satu dekade.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa bagian dari jalur kereta api Hejaz itu telah dihidupkan kembali, setidaknya sedikit demi sedikit. Israel, misalnya, menghidupkan kembali jalur kereta api dari Haifa ke Beit She’an pada tahun 2016.

Lalu jalur kereta api dari Amman ke Damaskus sempat dibuka kembali hingga dihentikan pada akhir 2011. Namun jalur ini tidak berfungsu lagi karena perang berkepanjangan di Suriah. Jalur ini sempat sangat populer sehingga sejumlah warga setempat berkata, ”Seandainya saja jalur itu dibuka kembali sehingga mereka bisa berakhir pekan ke Damaskus.”

 

Sedangkan di Yordania, dua jalur kereta api itu dihidupkan kembali. Para wisatawan dapat menumpang gerbong yang ditarik lokomotif uap melalui jalur rel yang membentang di padang pasir di Wadi Rum, jalur kereta yang pernah diserang Lawrence of Arabia.

Dibangun untuk mendekatkan Kekaisaran Ottoman dengan semua wilayah yang dilaluinya dan untuk melayani jamaah yang ingin menunaikan ibadah haji. Sultan Abdul Hamid II pada tahun 1900 yang memerintahkan pembangunan jalur kereta ini. Diproyeksikan pembangunan jakur kereta ini mampu memangkas perjalanan ibadah haji.

Bayangkan dengan menunggangi unta jarak antara Damaskus menuju Madinah ditempuh 40 hari. Dengan adanya jalur kereta Hejaz hanya ditempuh menjadi lima hari. Ketika jalur jalur Damaskus-Madinah selesai, direncanakan memperpanjang jalur utara menuju Konstantinopel, ibukota Ottoman, dan jalur selatan ke kota Makkah. Tetapi keberadaan jalur kereta api yang diharapkan dapat menyatukan dunia Islam itu gagal diwujudkan.

Yang menarik dari proyek transportasi massal itu dibiayai sepenuhnya oleh sumbangan umat Islam. Pembiayaan itu diambil dari pajak kekaisaran Ottoman dan tanpa investasi asing. Maka dari itu hingga sekarang rute kereta api Hejaz dianggap sebagai sebagai wakaf umat Islam dunia.

“Jalur kereta itu bukan dimiliki negara, bukan milik perorangan, tapi milik umat Islam di dunia. Ini seperti masjid tidak bisa dijual. Semua Muslim di dunia – bahkan dari Indonesia atau Malaysia – dapat mengklaim ‘Saya punya saham di sini,” kata Azmi Nalshik, pimpinan jalur kereta api Jordan Hejaz, seperti dikutip laman bbcindonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *